Minggu, 22 September 2013

Kumpulan Hadits

Kumpulan Hadits

Hadits-hadits yang saya dokumentasikan dari SMS Dakwah Al Sofwa sejak awal tahun 2010.
  1. Orang yang asing: orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya. (HR. Ahmad)
  2. Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat. Kami (sahabat) bertanya: Untuk siapa? Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi pemimpin serta kaum muslimin semua. (HR. Muslim)
  3. Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu. (HR. Muslim)
  4. … Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku (Nabi) dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya … (HR. Abu Daud)
  5. Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. melaknat penyuap, orang yang disuap dan perantara dari keduanya. (HR. Ahmad, At Tirmidzi, dll)
  6. Nabi bersabda: Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya. (HR. Al Baihaqi)
  7. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku (Nabi Muhammad saw.), maka silakan menempati tempat duduknya di neraka. (HR. Bukhari dan Muslim)
  8. Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah engkau (membalas) mengkhianati orang yang mengkhianatimu. (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, dll.)
  9. Dan istri shalihah yang menolongmu atas keperluan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang ditinggal oleh manusia (HR. Al Baihaqi)
  10. Tidaklah lahir seorang anak dalam keluarga seseorang, melainkan ia menjadi kemuliaan tersendiri bagi mereka yang sebelumnya tidak ada. (HR. Ath Thabrani)
  11. Tak seorangpun dari muslimin yang bertemu lantas mereka berjabat tangan, kecuali dosa mereka akan diampuni sebelum mereka berpisah. (HR. Ahmad, Abu Daud, dll)
  12. Sungguh, besarnya pahala itu setimpal dengan besarnya cobaan, dan sungguh, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikannya cobaan … (HR. At Tirmidzi)
  13. Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak ia perbuat), maka Allah akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka. (HR. Ahmad dll)
  14. Istri yang baik adalah istri yang jika kamu melihatnya, maka ia menyenangkanmu. Jika kamu menyuruhnya, ia mentaati. Dan jika kamu tidak ada, ia menjaga dirinya dan hartamu. (HR Abu Daud)
  15. Dua orang yang saling mencerca adalah dalam kondisi seperti yang mereka ucapkan, tuduhan itu akan kembali kepadanya jika yang dituduhnya itu tidak demikian. (HR. Al Bukhari)
  16. Barangsiapa yang ingin berbuat kebaikan dan tidak melaksanakannya, maka Allah menuliskannya di sisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  17. Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang (lebih) tua di antara kami, dan tidak menyayangi orang yang (lebih) muda (anak-anak) di antara kami. (HR. Abu Dawud)
  18. Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya adalah orang yang paling jauh jarak perjalanannya ke masjid (untuk shalat berjam’ah). (HR. Muslim)
  19. Jika seorang hamba sakit atau melakukan bepergian, maka ditulis (pahala) baginya seperti (amalan) yang (biasa) ia kerjakan ketika mukim (tidak bepergian) dan sehat. (HR. Al Bukhari)
  20. … dan jangan (kamu) memukul wajah (istrimu), jangan menjelek-jelekkannya, dan jangan meninggalkannya (mendiamkannya karena tidak taat) kecuali dalam rumah. (HR. Abu Dawud)
  21. (Islam yang paling baik); Engkau memberikan (sedekah) makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal. (Muttafaq ‘alaih)
  22. Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. (HR. Al Bukhari)
  23. Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. (HR. At Tirmidzi dan Ahmad)
  24. Barangsiapa yang diurungkan dari hajatnya (keperluannya) karena thiyarah (perasaan sial dengan sesuatu), maka dia telah melakukan kesyirikan. (HR. Ahmad)
  25. Barangsiapa menyambung shaf (shalat berjama’ah), maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutus shaf, maka Allah akan memutusnya (dengan rahmat-Nya). (HR. Ahmad)
  26. Tidaklah seorang hamba menutup (aib/kesalahan) seorang hamba yang lain di dunia melainkan pasti Allah menutup kesalahannya di hari kiamat. (HR. Muslim)
  27. Sesungguhnya Allah dan para malaikat, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut benar-benar bershalawat kepada para pengajar kebaikan pada manusia. (HR. Ath Thabrani)
  28. Dan janganlah kalian saling membelakangi (tidak saling mempedulikan/memalingkan diri), tapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. (HR. Muslim)
  29. Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, Wahai kafir, maka salah satu dari keduanya mendapatkannya (julukan kafir tersebut). (HR. Al Bukhari)
  30. Sebaik-baik dinar (harta) yang dinafkahkan seorang laki-laki adalah dinar yang dinafkahkan kepada keluarganya … (HR. Muslim)
  31. Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. (HR. At Tirmidzi)
  32. Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (pesta pernikahan) yang kepadanya diundang orang-orang kaya sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  33. … dan tidak boleh bagi seorang wanita (istri) memberi izin (kepada orang lain) masuk ke rumah (suaminya) kecuali dengan izinnya. (Muttafaq ‘Alaih)
  34. Sesungguhnnya Allah Ta’ala cemburu, dan kecemburuan Allah Ta’ala manakala seseorang mengerjakan apa yang diharamkan oleh Allah baginya. (Muttafaq ‘Alaih)
  35. Cukuplah seseorang itu berdosa, jika in menyia-nyiakan orang yang seharusnya ia beri nafkah. (HR. Abu Dawud)
  36. … dan shalatlah di malam hari (qiyamul lail) ketika manusia sedang tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat. (HR. Ahmad dan lainnya)
  37. Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda ataupun bersungguh-sungguh. (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
  38. Rasulullah bersabda, Aku juga bercanda, dan aku tidak mengatakan kecuali yang  benar. (HR. Ath Thabrani)
  39. Sesungguhnya Allah memaafklan kesalahan (yang tidak disengaja) dan kealpaan (lupa) dari ummatku serta sesuatu yang dipaksakan kepadanya. (HR. Ibnu Majah)
  40. Teman terbaik: orang yang jika kamu melihatnya ia mengingatkanmu kepada Allah, yang lisannya menambahkan ilmu bagimu, yang amalannyamengingatkanmu akan akhirat. (HR Ath Thabrani)
  41. Sesungguhnya tidaklah jin, manusia, dan siapapun yang mendengar suara muadzin, kecuali akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat. (HR. Bukhari)
  42. Lebih baik dada seseorang dipenuhi nanah hingga menyesakkan paru-parunya daripada dipenuhi syair. (Muttafaq ‘Alaih)
  43. Abu Hurairah berkata, Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika ia suka akan beliau makan, jika ia tidak suka maka beliau tinggalkan. (Muttafaq ‘Alaih)
  44. Barangsiapa mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, menahan karena Allah, sungguh ia telah menyempurnakan keimanan. (HR. Abu Daud)
  45. Rasulullah saw. bersabda, Semoga Allah memuliakan seseorang, mendengarkan sesuatu dariku lalu ia menyampaikan sesuai yang ia dengar … (HR. At-Tirmidzi)
  46. Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan subur (peranak), karena aku (Nabi) akan berbangga dengan banyaknya kalian terhadap ummat-ummat yang lainnya. (HR. An-Nasa-i)
  47. Rasulullah bersabda, Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran. (HR. Bukhari dan Muslim)
  48. Rasulullah bersabda, Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan pemutus kenikmatan, yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  49. Abu Hurairah berkata, Kekasihku (Nabi) telah berwasiat kepadaku 3 hal, …: Puasa 3 hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur setelah Witir. (HR. Bukhari)
  50. … Barangsiapa yang berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikannya itu, tapi jika engkau tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas, maka doakanlah untuknya dengan sungguh-sungguh. … (HR. Abu Daud)
  51. Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, dan istri beriman yang menolongnya dalam urusan akhirat. (HR. Ahmad)
  52. Beruntunglah orang yang (dapat) menguasai lisannya, dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya. (HR. Ath-Thabrani)
  53. Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang melakukan sholat, lalu ia perindah sholatnya itu, karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya. (HR. Ahmad)
  54. … Barangsiapa berusaha mendapatkan ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya. (HR. Ibnu Hibban)
  55. Seorang mujahid adalah yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah dan seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. (HR. Ahmad)
  56. Lakukanlah sholat-sholat (sunnah) di rumah-rumah kalian. Jangan jadikan rumah-rumah kalian (bagaikan) kuburan. (HR. Al Bukhari)
  57. Segala sesuatu yang di dalamnya tak ada dzikrullah adalah sia-sia belaka, kecuali 4 hal (salah satunya): percandaan laki-laki terhadap istrinya … (HR. Nasa-i)
  58. … dan hendaklah kalian menjauhi dusta, karena sesungguhnya dusta itu membimbing kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa itu membimbing kepada neraka … (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  59. Hindarilah tiga hal yang dapat mendatangkan laknat: buang hajat di saluran air, di tengah jalanan, dan di tempat berteduh. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dll.)
  60. Bilal bin Sa-ad berkata, Janganlah Anda mewakili wali Allah tatkala berada di tengah pandangan umum dan menjadi musuh-Nya tatkala sendirian. (HR. Ahmad)
  61. Barangsiapa yang meminta (sesuatu) dengan menyebut nama Allah, maka berilah; barangsiapa yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah, maka lindungilah … (HR. Abu Dawud)
  62. Rasulullah bersabda, Barangsiapa suka dihormati manusia dengan berdiri, maka hendaklah ia mendiami tempat duduknya di neraka. (HR. Ahmad)
  63. Puasa dan Al Qur-an memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata, Ya Rabbi, aku menghalanginya dari makan dan syahwatnya, maka berikan syafaat untukku kepadanya … (HR. Ahmad)
  64. Rasulullah bersabda, Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari)
  65. Nabi bersabda, Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqoroh. (HR. Muslim)
  66. Seorang pria bertanya kepada Nabi, Wahai Nabi apakah iman itu? Nabi menjawab, Jika kebaikanmu menyenangkanmu dan keburukanmu menyedihkanmu, kamulah mukmin. (HR. Ahmad)
  67. Satu dari dua malaikat yang turun bersamaan dengan datangnya pagi berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya. (Muttafaqun ‘alaihi)
  68. Barangsiapa berangkat ke masjid pada pagi hari maupun sore hari, Allah sediakan baginya hidangan di surga setiap pagi dan sorenya. (Muttafaqun ‘alaihi)
  69. Amal perbuatan dilaporkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku (Nabi) senang jika amalku dilaporkan kepada Allah sementara aku sedang berpuasa. (HR. At-Tirmidzi)
  70. Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya berada di sisinya kecuali dengan seizinnya. (HR. Bukhari)
  71. Wahai ‘Aisyah! Seburuk-buruk derajat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang manusia lainnya meninggalkannya karena takut akan keburukannya. (HR. Muslim)
  72. Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejauh perjalanan selama 70 tahun (HR. Al Bukhari)
  73. Tiak diperbolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian dengan jarak perjalanan sehari semalam tanpa mahram. (HR. Al Bukhari)
  74. Rasulullah saw. bersabda: Mujahid (yang sebenarnya) adalah yang melatih jiwanya untuk taat kepada Allah. (HR. Ibnu Hibban)
  75. Sesungguhnya tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, kecuali Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya. (HR. Al Baihaqi)
  76. Abdullah ibnu Umar berkata, Nabi melarang dari puasa Wishal (puasa yang berkelanjutan tanpa berbuka). (HR. Al Bukhari)
  77. Seorang wanita disiksa karena kucing, (sebabnya) ia mengurungnya hingga mati kelaparan, maka ia masuk neraka karena perbuatannya tersebut. (HR. Al Bukhari)
  78. Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak kalian, maka perbaguslah nama kalian. (HR. Ahmad)
  79. Sebaik-baik sedekah adalah yang melebihi kecukupan (diri sendiri), dan mulailah dari orang yang engkau tanggung. (HR. Al Bukhari)
  80. Janganlah kalian memaksakan diri (untuk melayani) tamunya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi. (HR Abu Nu’aim)
  81. Sesungguhnya manusia jika melihat orang zhalim lalu ia tidak mencegahnya, niscaya Allah akan timpakan siksaan dari sisi-Nya secara merata kepada mereka. (HR. Abu Daud)
  82. Aku (Nabi) dan orang yang memelihara anak yatim berada di surga seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahyang saling berdekatan). (HR. Al Bukhari)
  83. Tidaklah seseorang mengagungkan dirinya sendiri dan berbangga diri saat berjalan kecuali ia akan menemui Allah dalam keadaan marah kepadanya. (HR. At Tirmidzi)
  84. Ambillah amal yang dalam jangkauan kemampuan kalian karena Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan. (HR. Muttafaq ‘Alaih)
  85. Anas bin Malik berkata, Aku tidak pernah sekalipun melihat Rasulullah shalat Maghrib sebelum berbuka, walaupun hanya meminum (sedikit) air. (HR. Ibnu Hibban)
  86. Tiga jenis kebohongan yang mendapat keringanan Nabi? (salah satunya adalah) sewaktu mendamaikan di antara orang-orang … (HR. Ahmad)
  87. Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jum’at, kecuali jika dia berpuasa satu hari sebelum atau satu hari sesudahnya. (HR. Al Bukhari)
  88. Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin dari walinya, maka nikahnya batil (kemudian Nabi mengulang ucapan ini sebanyak tiga kali) …(HR. At Tirmidzi)
  89. Sesungguhnya Allah mencintai keringanan-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia mencintai keinginan (yang diperintahkan) -Nya dilaksanakan. (HR. Ibnu Hibban)
  90. Barangsiapa yang lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. (HR. Muslim)
  91. Sebaik-baik makanan yang kamu makan adalah yang dari hasil usahamu dan anak-anakmu adalah termasuk hasil usahamu. (HR, At Tirmidzi)
  92. Abu Dzar berkata, … dan beliau (Nabi) memerintahkan kepadaku untuk menyambung tali silaturrahim, meskipun telah terputus jauh … (HR. Ahmad)
  93. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak boleh menzhaliminya, tidak membiarkannya (dalam keburukan). (HR. Al Bukhari)
  94. Orang yang berbangga diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti pemakai dua pakaian yang palsu. (HR. Muttafaq ‘Alaih)
  95. Sesungguhnya sesudah wafatku, akan muncul para pemimpin yang mematikan sholat (sholat di luar waktu). Maka sholatlah kamu tetap pada waktunya. (HR. Muslim)
  96. Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zhalim. (HR. Abu Daud)
  97. Sesungguhnya besarnya pahala sepadan dengan besarnya cobaan. (HR. At Tirmidzi)
  98. Apabila seorang istri berinfak dengan harta hasil usaha suaminya, maka ia (suaminya) mendapatkan setengah pahala dari (infak istri) -nya. (HR. Bukhari)
  99. Barangsiapa bermuka dua di dunia, maka pada hari kiamat dia punya dua lidah dari api. (HR. Abu Daud)
  100. Barangsiapa yang membenci sunnahku (Muhammad), maka ia bukan dari (golongan) -ku. (HR. Al Bukhari)
  101. Apabila seseorang dari kalian melihat kepada yang diberikan kelebihan harta dan ketampanan, maka lihatlah dulu kepada yang ada di bawahnya. (HR. Al Bukhari)
  102. Seorang dari kalian selalu mengemis, sehingga dia menghadap Allah sedang di wajahnya tak ada sepotong dagingpun. (HR. Muslim)
  103. … Umar bin Khattab berkata, Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri. (HR. Al Bukhari)
  104. (Nabi) ditanya tentang puasa Arafah (9 Dzulhijjah), maka beliau menjawab: Menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang. (HR. Muslim)
  105. Puasa bukanlah (menahan diri) dari makan dan minum, akan tetapi puasa itu adalah menahan diri dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor. (HR. Ibnu Khuzaimah)
  106. Haji mabrur (itu) tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Ahmad)
  107. Janganlah seorang istri menceritakan sifat-sifat wanita lain di hadapan suaminya, sehingga seakan-akan ia (suaminya) melihat wanita tersebut. (HR. Al Bukhari)
  108. Barangsiapa merasa kaya (dari manusia, yakni hanya membutuhkan Allah), niscaya Allah yang akan memberikannya kekayaan. (HR. Al Bukhari)
  109. Penguluran dalam membayar hutang (yang dilakukan) oleh orang kaya (padahal ia mampu) adalah kezhaliman. (HR. Al Bukhari)
  110. Nabi mengutus seseorang mengabarkan manusia pada hari Asyura, bahwasanya barangsiapa yang belum makan, maka janganlah makan (Berpuasalah). (HR. Al Bukhari)
  111. Orang yang mati syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. (HR. Muslim)
  112. Sesungguhnya orang yang beriman itu diciptakan sebagai orang terfitnah (diuji) lagi bertaubat, pelupa dan bila diingatkan ia ingat. (HR. Ath Thabrani)
  113. Selisihilah orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot dan cukurlah kumis. (HR. Al Bukhari)
  114. Allah melaknat wanita yang memotong bulu alis dan minta dipotong bulu alisnya. (HR. Muslim)
  115. Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang diketahuinya kemudian ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari kiamat dengan tali dari api. (HR. Abu Daud)
Disebutkan di dalam hadits, bahwa Saad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang,” ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Saad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (HR. Bukhari)

Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah itu pencemburu dan seorang mukmin juga pencemburu. Kecemburuan Allah itu terjadi bila ada seorang hamba datang kepada-Nya dengan perbuatan yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari).

Salah satu sifat orang beriman adalah cemburu. Sebab, cemburu merupakan isyarat adanya cinta kasih. Islam memuji lelaki yang punya rasa cemburu dan mencela orang yang tidak memilikinya. Tentu saja selain menganjurkan cemburu, Islam memberikan batas-batasnya. Bila batas tersebut dilanggar, rusaklah kebahagian rumah tangga.



“Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibenci-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada sangkaan atau tuduhan. Sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasikeraguan” (HR. al Baihaqi)
Makhluk paling buruk.

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya. Yaitu ketika dia melihat kemungkaran oleh anggota keluarganya, dia hanya diam saja dan tidak merubahnya.

Lawannya adalah al-ghayyur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat.

Dalam sebuah hadits marfu’, dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat nanti, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts . . .” (HR. an-Nasa’i dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani). 
 Ancaman keras dalam hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang dimurkai Allah. Salah satu ciri dosa besar adalah apabila perbuatan tersebut diancam akan mendapatkan balasan di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, atau ancaman keras lainnya.

Imam Ad-Dzahabi dalam kitabnya, Al Kabair (kumpulan dosa-dosa besar) menempatkan perilaku diyatsah/dayyuts dalam urutan dosa besar ketiga puluh empat.

Beliau mengatakan dalam bab liwath, “Jika dia mengetahui istrinya telah berselingkuh (berzina) dan dia hanya diam saja (membiarkannya), maka Allah telah haramkan surga atasnya karena Allah telah menulis di pintu surga: ‘Kamu haram dimasuki seorang dayyuts’. Yaitu orang yang mengetahui perbuatan buruk (zina) pada istrinya, tapi dia diam saja dan tidak cemburu.”

Seorang suami yang dayyuts akan menyebabkan rusaknya agama dan akhlak anggota keluarga, sehingga layaklah suami dayyuts ini mendapatkan ancaman keras sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat di antaranya perbuatan ad-diyatsah/ad-dayyuts (membiarkan perbuatan buruk dalam keluarga) yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghiirah (cemburu dan marah ketika syariat Allah dilanggar) dalam hati pelakunya. Beliau berkata, “... oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan masuk surga. Demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan dzalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghiirah (dalam diri seseorang).”

Beliau melanjutkan, “ini semua menunjukkan bahwa asal pokok agama seseorang adalah sifat ghiirah. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghiirah maka berarti dia tidak memiliki agama (iman). Karena sifat ghiirah inilah yang akan menghidupkan hati (manusia) yang kemudian akan menghidupkan anggota tubuhnya, sehingga anggota tubuhnya akan menolak perbuatan buruk dan keji. Sebaliknya, hilangnya sifat ghiirah akan mematikan hatinya, yang kemudian akan mematikan kebaikan anggota tubuhnya, sehingga sama sekali tak ada penolakan terhadap keburukan dalam dirinya. . .” (kitab Ad-Da-u wad Dawaa’, hal. 84).

Suami buruk, keluarga terpuruk


Ad-Dayuts akan membiarkan keburukan pada agama istri dan anak-anaknya. Membiarkan atau menuruti kemauan mereka dalam perkara yang bertentangan dengan syari’at. Dia tidak punya rasa cemburu ketika keluarganya (istri dan anaknya) bermaksiat. Misalnya, dia membiarkan istrinya keluar rumah tanpa berjilbab, membiarkannya nongkrong di pinggir jalan bersama laki-laki lain, yang paling parah adalah membiarkan istrinya bergaul bebas dengan teman lakinya sampai melakukan zina. Apa yang bisa dibanggakan dari laki-laki seperti ini? Apalagi terhadap bentuk pelanggaran syari’at yang lainnya tentu ia lebih tidak peduli lagi.

Sungguh tak layak suami berperilaku dan bermental seperti ini. Karena Allah telah menetapkannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, pemimpin atas anak dan istrinya, dan kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Dari Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:
“Setiap kalian ra’in (penanggung jawab) dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa adalah penanggung jawab atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Suami menjadi penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan ditanya tentangnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Seorang istri, bagaimanapun baik sifat asalnya, tetap saja dia seorang perempuan yang lemah dan susah untuk diluruskan.
“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup)nya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati perempuan sebagai,
“…Orang-orang yang kurang (lemah) akal dan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka seseorang yang keadaannya sedemikian ini tentu sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari seorang laki-laki yang memiliki akal, kekuatan, kesabaran, dan kasih sayang. Karena itu, jangan pernah bosan menasihati keluarga Anda.
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka . . .” (QS. At-Tahrim: 6)
Tidak boleh dengan alasan kasih sayang ataupun cinta sehingga seorang suami membiarkan istri atau anaknya larut dalam kemaksiatan, sebab itu bukanlah kasih sayang dan cinta sejati.

Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anak, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.
Karena cinta kepada istri dan anak-anak merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali ‘Imran: 14)

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun: 14)
Menurut ibnu Katsir makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.

Barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’alaberfirman,
“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS Az-Zukhruf: 67)

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.[]


Terima kasih Anda tidak menghapus link sumber: http://alfathonah.blogspot.com/2010/07/ad-dayyuts-laki-laki-tak-punya-rasa.html#ixzz2fd4VTq2H

Adab Cemburu dalam Islam

~.::ღ•Adab Cemburu Dalam Islam•ღ::.~


~.::ღ•Adab Cemburu Dalam Islam•ღ::.~

Bismillahirrahmanirrahiim..
Assallamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

~.::*ღ•☺•ღ*::.~☺*::.~

Sahabat saudaraku fillah.. Kata orang cemburu itu perlu. Sebaliknya tak sedikit yang menolak dikatakan sebagai pencemburu. Itulah sifat cemburu. Layaknya mata uang, ia memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.

Dengan cemburu sebuah rumahtangga bisa bertambah rekat. Namun tak jarang justru ia menjadi awal sebuah kehancuran hidup seseorang. Berikut ini beberapa pandangan Islam mengenai sifat cemburu.

~.::*Pilihlah yang Disukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dalam sebuah riwayat, sifat cemburu itu terbagi menjadi dua. Ada yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun ada pula yang Tak disenangi oleh-Nya.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda :

”Cemburu itu ada dua macam. Ada cemburu yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ada juga yang dibenci-Nya. “Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah cemburu yang disukai Allah itu?” Beliau menjawab, “Jika kedurhakaan-kedurhakaan kepada-Nya dan jika hal-hal yang diharamkan-Nya dilanggar.” Kami bertanya lagi, “Lalu apakah cemburu yang dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala ?” Beliau menjawab, “Kecemburuan salah seorang di antara kalian di luar kadarnya.”

~.::* Kapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Cemburu

Cemburu adalah salah satu sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun ia tak termasuk dalam Asma al-Husna (Nama-nama indah Allah).Sejalan dengan ini ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang hal ini yaitu :

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu Meriwayatkan, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda :, “Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’Anhu Meriwayatkan, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda : “Tidak ada satupun sosok yang lebih menyukai pujian kepada dirinya dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Allah pun memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih punya rasa cemburu dibandingkan Allah, dikarenakan itulah maka Allah pun mengharamkan perkara-perkara yang keji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu Meriwayatkan, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Slaihi Wasallam Bersabda : “Seorang Mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

~.::*Cemburu Para Nabi

Terhadap sebuah kemungkaran, Nabi Muhammad sangatlah pencemburu. Hal ini tergambar dalam kisah Sa’ad ibn Ubadah. Suatu ketika ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saran engkau jika saya mendapati istriku berzina dengan seorang laki-laki? Apakah saya harus menangguhkan balasan hingga mendapatkan empat orang saksi?” Nabi menjawab, “Benar!” Sa’ad berkata lagi, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bagaimana jika saya memukulnya dengan punggung pedang?” Nabi menjawab, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dirinya.” (Riwayat Bukhari)

~.::*Cemburu Itu Manusiawi

Saking cintanya kepada sang suami- Rasulullah, ‘Aisyah pun tak luput dari rasa cemburu. ‘Ummu al-Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah bercerita, aku tak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Karena Nabi seringkali menyebut namanya. “Suatu hari beliau menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadamu.” Nabi bersabda, “Demi Allah, Dia tidak memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadaku.” (Riwayat Bukhari)

~.::*Hentikan Cemburu Buta

Cemburu yang dibangun di atas imajinasi, dan buruk sangka hanyalah akan merusak sebuah hubungan. Ia tak lebih dari mengikuti hawa nafsu semata. Padahal ia sendiri tak mengetahui persoalan kecuali menuruti perasaan dan emosi sesaat saja. Bahkan boleh jadi cemburu tersebut lalu ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin merusak keutuhan rumah tangga seseorang.

~.::*Jalin Komunikasi

Menjalin komunikasi yang sehat bisa menjadi jembatan yang merekatkan kembali rumahtangga yang lagi renggang. Saling terbuka dalam segala urusan niscaya semakin memudahkan dalam menyelesaikan suatu persoalan rumahtangga.

Semoga manfaat buat kita semua, Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.

Semoga pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-NYA....Aamiin Allahuma AAmiin. **Diadaptasi dari : “Ustadz Maskur/ Suara Hidayatullah,, Diedit dan disunting kembali oleh : Nafisah Khairunisa Muenthazzar.**

~.::*Sahabat Saudaraku fillah..Silakan di Tag/Share semua Untuk Umat dan Syiar Islam,,Bantu Tag Sahabat-sahabat yang lain…. Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum.

~.::*SaLam Santun Erat SiLaturrahim dan Ukhuwah Fillah*::.~

Arti Cinta,Rindu dan Cemburu dalam Islam

Arti Cinta, Rindu dan Cemburu dalam Islam


Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syar’i. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal ini adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya. Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai.

Cinta (Al-Hubb)
Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah Sawmenganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah r.a berkata : “Aku telah meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah Sawbertanya kepadaku :“Apakah kamu telah melihatnya ?” Aku berkata : “Belum”, maka beliau bersabda : “Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhirnya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua”

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta. Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Swt :
["Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,..."] Ali-’Imran : 14

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi Saw bersabda :
["Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian : wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat"] HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi.

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Swt tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas r.a berkata : telah bersabda Rasulullah Saw:
["Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pernikahan"]

Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena ‘pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramnya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Swt.

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena apa yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab-sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti perkara yang telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tajawab, dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan olsebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun …..sangat sedikit mereka yang selamat.

Rindu (Al-’Isyq)
Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.
Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat. Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapat pahala.

Cemburu (Al-Ghairah)
Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu termasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketika suaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab I). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan. Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.

Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Swt jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau mengingkari hal-hal tersebut, karena dorongan cemburu. Maka kami katakan padanya :
  • Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.
  • Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
  • Bahwasanya Allah Swt telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski kita tidak mengetahui secara rinci.
Surga merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Swt
["Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan"] As-Sajdah : 17

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Swt yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau mereka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.
Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang-orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan dan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu ‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.